SendEarnings

Minggu, 30 November 2008

OPEC: Harga Minyak Tidak Pulih Sampai Pertengahan 2009

KAIRO, MINGGU - Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan harga minyak mentah tidak akan pulih sebelum pertengan tahun 2009 mendatang. "Harga minyak tidak akan mulai naik sebelum paruh kedua 2009," kata Sekretais Jenderal OPEC, Abdalla Salem El-Badri Sabtu (29/11) di Kairo.

Harga emas hitam ini, pada akhir pekan lalu, untuk jenis light sweet di di New York Mercantile Exchange (NYMEX) ditutup pada 54,43 dollar AS per bareel, sedangkan untuk jensi brent di ICE Futures exchange, London, berada di level 53,49 dollar AS per barrel.

OPEC, yang memproduksi 40 persen dari minyak mentah dunia, memutuskan mempertahankan kuota produksinya dalam sebuah pertemuan informal Sabtu (29/11) di Kairo, namun menjanjikan mengambil setiap aksi yang diperlukan untuk menstabilkan pasar pada bulan depan.

Merosotnya permintaan minyak akibat penurunan ekonomi global mengakibatkan harga minyak jatuh sekitar dua pertiganya dari rekor tertinggi di atas 147 dollar AS per barel hanya dalam waktu empat bulan. "Para menteri sepakat untuk mengambil setiap langkah aksi pada 17 Desember (di Iran) guna menyeimbangkan pasokan dan permintaan minyak serta serta mencapai kestabilan pasar," kata Chakib Khelil, yang juga menteri perminyakan Aljazair, seperti dikutip AFP.

Menigkatnya ekspektasi keputusan tersebut muncul karena harga minyak mentah telah mendekati harga terendah dalam tiga tahun, memicu kekhawatiran diantara para anggota OPEC tentang anjloknya pendapatan mereka dari minyak.

Menteri Perminyakan Libya, Shukri Ghanem kepada para jurnalis mengatakan "tidak ada pemotongan produksi" setelah pertemuan di ibukota Mesir.

Pasar terus merosot pada tahun ini, meski OPEC menurunkan produksinya pada September dan Oktober menjadikan kuota produksinya sebesar 27,3 juta barrel per hari, tidak termasuk Irak. "Kami mencatat kemunduran serius dalam ekonomi dunia dan itu membawa konsekuensi serius pula pada harga minyak," kata Khelil.

Realisitis

Khelil, dalam sebuah konferensi pers, juga mengakui bahwa krisis finansial global dan bayangan resesi seluruh dunia akan memangkas signifikan permintaan energi untuk enam bulan pertama 2009. "Kami realistis bahwa dalam kuartal pertama tahun depan permintaan akan turun, dan dalam kuartal kedua kami akan mengalami penurunan besar," kata dia.

Badri menambahkan, para menteri OPEC telah mencapai sebuah "konsensus" tentang pemotongan produksi pada pertemuan mendatang di Oran, Aljazair, pada 17 Desember. Analis Bill Farren-Price dari Medley Global Advisers mengatakan bahwa kartel perlu menurunkan produksinya sedikitnya satu juta barel pada bulan depan.

Mereka pasti akan menurunkan .... sedikitnya satu juta barel per hari, namun realitasnya tergantung berapa banyak yang mereka nilai cukup dalam melengkapi penurunan sebelumnya," kata Farren-Price.

Badri juga mengkonfirmasikan bahwa produsen minyak utama non-OPEC Rusia, Rusia, salah satu produsen minyak dan gan terbesar dunia, mengatakan awal pekan ini bahwa penurunan harga merugikan para produsen dan pihaknya akan mengkoordinasikan starteginya bersama OPEC.

Khelil mengatakan kartel telah mencapai tingkat pemenuhan 85 persen di antara para anggota untuk dua penurunan produksi sebelumnya pada September dan Oktober.

OPEC menyerukan sebuah pertemuan kosultatif untuk membicarakan bagaimana menopang harga yang telah jatuh dari rekor tertinggi tahun ini, di tengah bayang-bayang resesi global yang memukul permintaan energi.

Awal bulan ini, minyak mentah Brent North Sea di London, jatuh menjadi 47,40 dollar AS dan minyak mentah di New York menyentuh 48,35 dollar AS -- keduanya capaian terendah dalam hampir empat tahun.

Bandingkan itu dengan rekor tertinggi mereka, masing-masing 147,50 dan 147,27 dollar AS pada 11 Juli, ketika kekhawatiran terhadap gangguan pasokan membuat harga minyak meroket.

Sementara, Raja Arab Saudi King Abdullah mengatakan dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di Kuwait bahwa harga 75 dollar AS per barrel akan menjadi "adil" -- sebuah indikasi bawa penurunan produksi akan terjadi pada pertemuan mendatang untuk menghidupkan kembali pasar.

Arab Saudi adalah eksportir minyak mentah terbesar di dunia dan sejauh ini memainkan peran penting dalam OPEC, yang memproduksi 40 persen pasokan minyak mentah global. Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Nuaimi mengatakan jelang pertemuan di Kairo, bahwa keputusan tentang produksi akan dibuat pada Desember.

OPEC terdiri dari Aljazair, Angola, Ekuador, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Venezuela. Ke-13 produsen minyak -- Indonesia telah menghentikan sementara keanggotaannya dan resmi keluar dari kartel pada akhir 2008 -- sementara Irak tidak memiliki kuota produksi karena negara itu mengalami peselisihan domestik pasca perang.

Mulai Desember 2008 BBM turun

JAKARTA, SENIN - Pemerintah resmi menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium atau bensin sebesar Rp 500 per liter, menjadi Rp 5.500 per liter, mulai Senin (1/12) ini. Pemerintah menaikkan harga BBM 25 Mei silam karena harga minyak mentah di pasaran dunia tak terkendali, mencapai 145 dollar AS per barrel. Ketika harga minyak anjlok ke level 49 dollar AS per barrel pekan ini, pemerintah menurunkan harga bensin dari Rp 6.000/liter yang bertahan selama enam bulan.

"Terhitung berlaku mulai pukul 00.00 WIB tanggal 1 Desember 2008, harga eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) tertentu jenis Premium turun menjadi Rp 5.500 per liter," kata Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Energi dan Sumbar Daya Mineral Departemen ESDM Sutisna Prawira dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (30/11).

Ketetapan penurunan harga ini didasarkan pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 38 tahun 2008 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Tanah (Kerosene), Bensin Premium, dan Minyak Solar (Gas Oil) Untuk Keperluan Rumah Tangga, Usaha Kecil, Usaha Perikanan, Transportasi, dan Pelayanan Umum, tanggal 28 November 2008.

Jika harga bensin turun, tidak demikian dengan harga dua jenis minyak subsidi lainnya, minyak tanah dan Solar. Harga resmi minyak tanah tetap Rp 2.500 per liter, dan solar tetap Rp 5.500 per liter. Demikian juga harga semua bahan bakar khusus yang terdiri dari pertamax, pertamax plus, pertamina dex dan biopertamax, untuk periode 1 Desember 2008 hingga 15 Desember 2008 ini, di seluruh Indonesia, Pertamina memutuskan tidak mengalami perubahan. Harga pertamax untuk di Jakarta sama dengan periode 15 November 2008 sampai 30 November 2008, yakni sebesr Rp 6.800 per liter.

Namun penurunan harga bensin dianggap tidak berdampak banyak pada perekonomian secara makro, karena tidak diikuti penurunan harga bahan bakar lainnya, terutama jenis solar yang banyak digunakan sektor angkutan umum.

Chairman Executive Deputy Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Djimanto mengatakan, harga premiun bersubsidi yang dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 seliter tersebut tidak mampu Industri di Indonesia.

"Kalau turunnya cuma Rp 500 dan hanya untuk premium saja ya tidak signifikan. Yang dapat pengaruh ya cuma kendaraan pribadi dan angkutan umum. Itu pun hanya mengurangi ongkos operasi, tetapi tetap sedikit," kata Djimanto saat dihubungi Persda Network di Jakarta, Minggu (30/11) malam.

Djimanto meminta agar pemerintah tidak tanggung-tanggung saat menurunkan harga premium. Bila pada saat menaikkan harga juga tidak tanggung-tanggung, maka saat menurunkannya tidak tanggung juga. Penurunan harga premiun akan signifikan bila turunnya minimal Rp 1.000 per liter. "Atau bagaimana caranya agar subsidi dilakukan bukan pada barangnya tetapi untuk lepisan masyarakatnya. Misalnya subsidi premium bagi angkutan umum," tandasnya.

Untuk Industri, Djimanto menyatakan sama sekali tidak tersentuh turunnya harga premium tersebut. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh industri menggunakan BBM solar. "Kalau solarnya nggak turun ya sama saja. Karenanya yang kita harapkan bagaimana agar harga solar turun," ujarnya.

Dia juga mengingatkan, saat ini ongkos produksi industri di Indonesia terbentur oleh harga solar dan naiknya suku bunga perbankan di Indonesia. "Pada saat negara lain menurunkan suku bunga perbankan, di sini suku bunganya malah naik. Ongkos produksi pun ikut naik," tandasnya.

Sebagai akibatnya, produk-produk impor yang menyerbu ke dalam negeri pun sulit dibendung karena harganya lebih murah dibanding dengan produksi dalam negeri. Menurutnya, ini tidak adil karena pemerintah sendiri yang membuat produksi dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk impor.

Sementara Ketua Umum Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Murphy Hutagalung mengatakan pihaknya tidak akan menurunkan tarif angkutan umum. Hal ini juga telah disetujui oleh Departemen Perhubungan. "Penurunan harga premium cuma Rp 500 per liter, sementara nilai rupiah terhadap dollar terus menurun. Harga spare part pun semakin tinggi, setidaknya naik lima persen. Jadi kalau tarif turun maka pendapatan tidak menutupi ongkos," kata Murphy saat dihubungi.

Selain itu, jelasnya, angkutan yang menggunakan premium sebagai bahan bakar jumlahnya tidak lebih dari 30 persen. Sedangkan yang 70 persen angkutan menggunakan solar yang malah tidak diturunkan oleh pemerintah.

Pengamat perminyakan dan energi, Dr Kurtubi mengatakan, penurunan harga premium tidak cukup. Menurutnya, kalau turunnya hanya Rp 500 dan hanya jenis premium, tidak punya dampak terhadap perekonomian dalam negeri. Penurunan hagra BBM ini dimaksudnya untuk membantu sektor riil, nelayan, pelaku usaha kecil dan menengah, tukang ojek dan untuk meningkatkan daya beli.

"Menurut pendapat saya, biaya pokok BBM antara 4.500 - 5.000 per liter, tergantung kurs rupiah terhadap dolar. Kalau itu menjadi setandard, premium mestinya turun antara Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per liter menjadi Rp 5.000 atau Rp 4.500, dan solar turun Rp 500 sampai Rp 1.000 menjadi 4.500 atau Rp 4.000," ujarnya.

Turunnya harga bensin 500 perak, tidak signifikan mendorong sektor riil, dan tidak signifikasn mendorong daya beli masyarkat. "Harga solar yang mestinya prioritas turun, padahal dengan harga minyak mentah di bawah 50 dollar per barrel, dan nilai tukar dollar Rp 12 ribu per dollar, terbuka peluang bagi pemerintah menurunkan harga minya lebih besar, bukan saja premium, tetapi juga solar," ujar Kurtubi.

Dengan penurunan segitu kecil, Kurtubi ragu, jangan harga harga-harga. "Jangan harga-harga kebutuhan pokok, tarif angkot saja tidak akan turun. Kecuali solar yang turun," tandasnya.

Hadapi Krisis Global, AIA Adakan Pertemuan Para Banker

JAKARTA,MINGGU - Gelombang pertama krisis keuangan global yang diawali oleh ambruknya lembaga-lembaga keuangan di Amerika Serikat telah memberikan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Selanjutnya, anjloknya harga saham dan ditariknya modal asing dari pasar saham Indonesia, menyebabkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga keuangan di Indonesia. Kini, gelombang ketiga berpotensi membawa dampak negatif bagi industri-industri atau bisnis disertai pengurangan tenaga kerja.

Mencermati datangnya krisis gelombang ketiga tersebut, PT Asuransi AIA Indonesia (AIA Indonesia) menggelar acara Bankers Gathering bertema Surfing through the Third Wave of Crisis di Jakarta pada 26 November 2008 lalu.

"Tujuan dari Bankers Gathering adalah untuk memfasilitasi para pelaku industri perbankan dan asuransi agar dapat saling bertukar pikiran dengan para narasumber yang kompeten di bidangnya," kata Wakil Presiden Direktur AIA Indonesia Chris Bendl, melalui siaran pers yang diterima kompas.com di Jakarta, pertengahan pekan ini.

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (Akademisi dan Ekonom Senior), Anton Gunawan (Kepala Ekonom Bank Danamon) dan Michael Tjoajadi (Direktur PT Schroders Indonesia).

Ketiga narasumber tersebut, menyampaikan prediksi dan peluang ekonomi Indonesia tahun 2009, serta dampaknya bagi industri keuangan khususnya perbankan dan asuransi. Harapannya, para pelaku industri keuangan khususnya asuransi dan perbankan akan siap berselancar mengarungi gelombang ketiga krisis di tahun 2009.

Melalui acara ini juga, lanjut Bendl, AIA Indonesia dan mitra-mitra bisnis nantinya dapat bahu-membahu mempersiapkan diri dalam menyambut gelombang krisis kepercayaan masyarakat terhadap industri keuangan. Selain itu, merencanakan langkah-langkah untuk mengantisipasinya.

Din: Pemerintah Jangan Anggap Enteng Krisis

CEPU, MINGGU - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin mengingatkan pemerintah untuk tidak menganggap enteng krisis dunia. Apalagi, kalau sampai bersembunyi dibalik alasan krisis global, sehingga menyebabkan Indonesia terpuruk.

"Pemerintah jangan berpretensi bisa menyelesaikan problem ini sendiri, jangan terlalu PD lah, bisa menyelesaikan sendiri," ujar Din di Cepu, Minggu (30/11) seusai bertemu dengan Pengurus Daerah Muhammadiyah Blora. Dampak krisis global akan membawa akibat negatif, menurut Din, diperlukan upaya kolektif bangsa.

Pemerintah dan masyarakat harus saling bekerjasama. "Pemerintah tidak boleh melupakan apa yang terjadi di eksternal, dan merasa aman-aman saja. Dan kita sebagai masyarakat madani, tetap meneruskan agenda demokrasi. Saatnya semua pihak menampilkan sikap kenegarawanan, pemerintah jangan berpretensi bisa menyelesaikan problem kebangsaan sendiri," ujarnya.

Kadin: Ikuti Langkah Uni Eropa

JAKARTA, SENIN - Setelah sekian lama dibuat gelisah terhadap potensi ancaman akibat krisis finansial dan teror kejatuhan nilai tukar rupiah, masyarakat dan dunia usaha kini butuh stimulus ekonomi guna membangkitkan keyakinan dan kepercayaan diri.

Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap Fiskal dan MoneterKamar Dagang dan Industri Indonesia, Senin (1/12), di Jakarta, mengatakan, Kadin Indonesia lagi-lagi berharap pemerintah segera mengikuti langkah Uni Eropa (UE) yang pekan lalu melengkapi upaya global memulihkan perekonomian dari ekses krisis finansial saat ini.

Seperti diketahui, menurut Bambang, UE telah mengumumkan paket stimulus ekonomi sebesar 200 miliar euro. Sebelumnya, India, Korsel, Jepang, Australia, AS dan Taiwan juga melakukan hal yang sama. People Bank of China bahkan melengkapi stimulus fiskal dengan menurunkan suku bunga acuan. "Cara pemerintah Taiwan menstimulir konsumsi masyarakat terbilang unik dan agresif, yakni menerbitkan voucher belanja," ujar Bambang.

Semua stimulus ekonomi itu bertujuan membangkitkan keyakinan dan kepercayaan diri masyarakat serta dunia usaha, agar bersama-sama mau menggerakkan kembali motor perekonomian di masing-masing negara. Itulah semangat dari setiap stimulus ekonomi saat ini.

Kadin berharap pemerintah pun melakukan hal sama. Sejauh ini, Kadin menilai stimulus dari pemerintah serba tanggung dan kurang implementatif. Percepatan penyerapan anggaran belanja sebesar Rp 100 triliun untuk Desember 2008, pemotongan pajak Rp 12,5 triliun dan penurunan harga premium bersubsidi Rp 500 per liter dilihat sebagaistimulus yang tidak efektif membangkitkan keyakinan dan kepercayaan diri masyarakat.

Kadin mengusulkan beberapa stimulus ekonomi yang mencakup penurunan suku bunga. BI rate diturunkan setidaknya menjadi 8.5 persen. Kemudia, insentif pajak berupa keringanan untuk menunda pembayaran pajak. Penurunan harga BBM (premium-solar) bersubsidi. Skala penurunan premium layaknya Rp 1.500 per liter, dan solar diturunkan Rp 1.000 per liternya.

Penurunan harga BBM bersubsidi akan mendinamisasi kegiatan ekonomi rakyat dan memperkuat daya beli. Tingkatkan efektivitas penyerapan anggaran di APBN. Fungsi APBN belum efektif sebagai motor penggerak ekonomi akibat lambannya penyerapan.

Kadin juga mengusulkan penurunan tarif dasar listrik 8-10 persen. Maksimalkan upaya mendorong masyarakat menggunakanproduksi dalam negeri. Dengan penguatan konsumsi rumahtangga.Berikan penjaminan penuh atau blanket guarantee atas simpanan rupiah dana masyarakat di perbankan nasional.